Langsung ke konten utama

Free Download 30 Background Islami

Sahabat sahabat semua khususnya yang suka Desain, Desain grafis sangat erat dengan persepsi, pencitraan, dan juga komunikasi. Desain grafis memudahkan dalam bertukar informasi, membuat sebuah informasi menjadi lebih menarik dan lebih nyaman secara visual. Desain grafis juga penting bagi sebuah bisnis untuk mengkomunikasikan fitur, manfaat, dan keunggulan produk atau layanan secara visual kepada prospek dan target pelanggan. Alasan utama orang lebih suka grafis dari pada teks karena kecepatan penyerapan informasinya. Menurut riset, visual grafis diserap 60.000 kali lebih cepat dari pada teks. Grafis yang bagus dapat langsung mengkomunikasikan pesan, perasaan, emosi, dan nilai yang disampaikan. Berikut beberapa point kenapa desain grafis penting untuk sebuah bisnis 1. Kesan Pertama itu penting Desain grafis diperlukan untuk membuat kesan positif dan bertahan lama pada merek  brand  anda. Karena interaksi pertama anda dengan pelanggan dapat menentukan nada dari hubungan bisnis anda. 2. Ko

Akidah, Filsafat dan Tasawuf dalam pandangan Al Ghazali


Kajian ini akan membahas seputar akidah, filsafat dan tasawuf dalam perspektif al Ghazali dengan membedah karyanya yang berjudul al Munqidz min al Dhalal. Tulisan ini mencoba melakukan studi komparatif dan tidak hanya terpaku pada teks kitab sehingga tidak terkesan sebagai terjemahan kitab yang ada. Kitab yang penulis jadikan rujukan adalah Majmu’ah Rasa’il Imam Ghazali (kumpulan tesis-tesis al Ghazali) terbitan Dar al Kutub al Ilmiah. Didalam kitab tersebut memuat berbagai judul risalah karangan al Ghazali termasuk kitab yang akan kita kaji. Al Munqidz min al Dhalal merupakan potret gejolak kejiwaan yang dialami al Ghazali ketika beliau menelusuri, kontemplasi (tafakur), dan melakukan pencarian yang mendalam tentang sebuah kebenaran. Kata pengantar (taqdim) kitab tersebut ditulis oleh Ahmad Syamsuddin yang mengulas tentang riwayat singkat al Ghazali. Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al Ghazali. Ia dilahirkan di Thabiran, salah satu perkampungan kecil di Thawus, Khurasan (Iran) pada tahun 450 H/1058 M. Ia hidup di lingkungan yang miskin, bapaknya bekerja sebagai pemintal benang yang dijual di pasar Thawus. Sang Ayah tutup usia sebelum al Ghazali menginjak baligh.



Pola Pikir yang dipakai al Ghazali
Dalam ranah filsafat, untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ada dua teori yang paling masyhur. Pertama, Rasionalisme yaitu aliran yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah akal pikiran, rasio dan jiwa manusia. Kedua, Empirisme ialah aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari pengalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap oleh panca indera (Ilmu, Filsafat dan Agama). Kedua teori di atas juga tak luput dari kajian al Ghazali. Namun, lagi-lagi al Ghazali menyangsikan kedua teori ini. Oleh sebab itu al Ghazali melakukan pengujian akan validitas kedua teori tersebut. Pertama-tama al Ghazali menguji kebenaran pengetahuan melalui empirisme (hissiyyat). Semisal data-data yang diterima oleh mata kita terhadap bintang-bintang di langit. Menurut penglihatan kita, bintang itu tampak kecil, sekecil uang logam (dinar). Tetapi berdasarkan ilmu geometri (handasah), bintang diangkasa jauh lebih besar daripada ukuran bumi. Ternyata pada faktanya data-data yang diterima oleh indera acapkali menipu dan bertolak belakang dengan keadaan sebenarnya. Bermula dari ketidakpuasan terhadap teori empirisme (hissiyyat) ini memaksa al Ghazali untuk berpindah pada teori rasionalisme (dharuriyat). Menurut para penganut teori rasionalisme, satu-satunya pengetahuan yang absah dan dapat dipercaya adalah pengetahuan yang dihasilkan oleh akal rasional. 

Contoh pendekatan rasionalisme adalah bilangan sepuluh lebih besar dari pada tiga, antara kekal (qadim) dan perkara yang baru (hadits) tidak mungkin terkumpul dalam satu bagian. Bukankah pengetahuan rasional (dharuriyat) lebih bisa diterima daripada pengetahuan empiris (hissiyyat) ?. Meskipun demikian, para penganut aliran empirisme mencoba melakukan pembelaan dan purifikasi. Karena pada dasarnya apa-apa yang diketahui melalui inderawi jauh lebih riil dan nyata ketimbang pengetahuan melalui otak yang bersifat abstrak. Karena frustasi terhadap kedua teori filsafat yang saling serang antara satu dengan lainnya dan tidak mampu menyingkap tabir kebenaran, akhirnya al Ghazali kepincut dengan pendekatan ahli sufi. Menurut al Ghazali pengetahuan melalui mukasyafah (intuitif) dapat mengantarkan pada kebenaran sejati. Al Ghazali meyakinkan pendapatnya (pendekatan mukasyafah mampu mencapai kebenaran) dengan mengilustrasikan pengalaman mimpi. Ketika kita mimpi, kita bisa merasakan kejadian-kejadian yang berada diluar kenyataan inderawi. Namun ketika kita bangun dari tidur, pengalaman itu lenyap dan tidak kita jumpai dialam sadar. Kendatipun demikian, mimpi sulit dibantah keberadaannya.

Dengan kata lain, pendekatan mukasyafah (intuitif) jauh lebih riil ketimbang pendekatan dharuriyat (rasionalisme) dan hissiyyat (empirisme) yang problematis. Pengalaman intuitif inipun sebenarnya kerap kita jumpai dalam keadaan terjaga (bukan mimpi/tidur). Tatkala kita melamun, pikiran kita melayang kemana-mana dan kita sendiri tidak tahu apa yang kita kerjakan. Ini membuktikan bahwa pengalaman bathin memang benar-benar ada.

Ilmu Kalam (Teologi)
Setelah melakukan pergumulan yang cukup lama dengan ilmu tauhid dan menguasainya secara paripurna. Al Ghazali menulis sebuah buku khusus tentang disiplin ilmu ini. Tujuan ilmu tauhid adalah untuk menjaga akidah Ahlussunnah dari pengaruh ahli bid’ah. Melalui lisan Rasulullah, Allah Swt menyampaikan akidah yang benar demi tegaknya kebajikan (mashalih) agama dan urusan dunia hamba-hambaNya. Lantas syaitan mencemari akidah tersebut melaui antek-anteknya (ahli bid’ah). Syaitan melontarkan rasa was-was pada ahli bid’ah tentang perkara ysng bertentangan dan tidak sesuai dengan al Sunnah, dan mampu mngecoh orang-orang yang berakidah benar. 

Dalam hal ini, tampillah para mutakallimin (teolog) melakukan purifikasi terhadap akidah yang telah ternodai dan membela al Sunnah agar tetap orisinil serta menguak kesesatan ahli bid’ah. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya, para teolog justru hanya sibuk berapologi dan menanggapi tuduhan-tuduhan lawan mereka. Tidak berbicara pada substansi teologi yang menjadi tujuan awal ilmu tauhid. Bahkan mereka tenggelam dalam budaya pembebekan (taqlid), cenderung menerima apa adanya dan tidak lagi mencari kebenaran teologi.

Upaya untuk meluruskan akidah yang telah dirusak oleh ahli bid’ah ini adakalanya melalui taklid, konsensus (ijma’) umat atau sekedar menerima dari al Qur’an dan al Sunnah. Fanatisme yang berlebihan terhadap suatu golongan ini tidak akan membawa manfaat bagi penanut filasafat rasionalisme (dharuriyat). Karena mereka hanya akan menerima hal-hal yang masuk akal, melalui premis-premis rasional. Sementara para teolog hanya membela aliran masing-masing, bukan merasionalkan akidah. Dengan sangat kecewa al Ghazali mengatakan ”falam yakun al kalamu fi haqqy kafiyan, wa la lida’i alladzi kuntu asykuhu syafiyan”. Yang artinya kurang lebih ”ilmu kalam bagiku tidak mencukupi, ia tidak bisa menjadi obat yang menyembuhkan keraguanku”. Dan akhirnya al Ghazali tidak puas dengan ilmu ini.

Filsafat
Setelah rampung mengupas ilmu kalam, selanjutnya al Ghazali menelanjangi ilmu filsafat. Sebenarnya filsafat mempunyai beragam aliran, namun secara garis besar ada tiga golongan yaitu dahriyun, thabi’iyun, ilahiyun. Pertama, atheisme (dahriyun) yaitu aliran yang sesuai dengan filsafat kuno dan tidak mempercayai adanya sang Pencipta. Mereka mengira bahwa alam dan kehidupan didalamnya ada dengan sendirinya. Mereka meyakini bahwa manusia berasal dari sperma dan sperma berasal dari manusia tanpa campur tangan sang Khaliq. Dan kehidupan akan kekal tiada akhir.
Kedua, naturalisme (thabi’iyun) adalah aliran filasafat yang lebih banyak membahas perubahan materi, makhluik hidup dan tumbuhan. Obyek kajiannya lebih terfokus pada struktur tubuh makhluk hidup. Penganut aliran ini masih mempercayai eksistensi Tuhan. Mereka mengira kekuatan manusia timbul dari dirinya sendiri. Mereka berpendapat bahwa manusia ketika sudah mati, maka berakhir pula perjalanan hidupnya. 

Mereka mengingkari kehidupan akhirat, surga, neraka, kiamat dan hisab atau penghitungan amal. Dan yang terakhir adalah metafisika (ilahiyun). Para filosof yang masuk dalam sekte ini adalah Socrates, ia merupakan guru dari Plato. Plato merupakan guru dari Aristoteles. Aristoteles dikenal sebagai penggagas ilmu logika (mantiq). Aristoteles banyak mengkritik aliran filsafat sebelumnya yaitu dahriyun dan thabi’iyun. Aristoteles juga mngupas kesalahan berpikir Plato dan Socrates serta penganut filsafat metafisika (ilahiyun) sebelumnya.

Gagasan Aristoteles ini banyak digandrungi para filosof muslim seperti Ibnu Sina (370-428 H) dan al Farabi (260-339 H). Mereka semua menurut pandangan al Ghazali telah terjebak dalam jurang kesesatan. Kajian filsafat terdiri enam pembahasan yaitu riyadhiyah (meliputi matematika, geometri dll), mantiqiyah (logika), thabi’iyah (membahas tentang alam, langit perbintangan dll), ilahiyah (metafisika), siyasiyah (politik), khalqiyah (etika). Untuk kejelasan masing-masing aliran berikut kerancuannya, pembaca bisa merujuk dalam kitab aslinya. Karena saking panjangnya uraian al Ghazali, maka penulis tidak mengupasnya secara mendetail.

Tasawuf
Setelah menelan kekecewaan dari ilmu teologi (kalam) dan tidak terpuaskan oleh nalar para filosof, akhirnya al Ghazali berlabuh di dunia tasawuf. Menurut al Ghazali, mempelajari ilmu tasawuf itu lebih mudah daripada mengamalkannya. Ia mulai menggali ilmu tasawuf dengan banyak membaca buku-buku tasawuf seperti Qut al Qulub karya Abi Thalib al Makky, al Mutafariqat al Ma’tsurah kaya al Junaidi. Buku-buku lain yang di pelajarinya adalah milik Harits al Muhasibi, al Syibli, Abi Yazid al Basthomi dan tokoh-tokoh sufi lainnya. Ternyata substansi tasawuf bukanlah pada kajian ilmiah, melainkan pada tataran aplikasinya. Inti tasawuf bukan pada pengetahuan yang mendalam, tetapi melalui pengamalan (suluk) dan perasaan (dzauq). Kebahagian hakiki tak akan bisa digapai kecuali dengan taqwa, pengekangan hawa nafsu dan melakukan pemutusan hubungan antara hati dan dunia yang penuh penipuan. Setelah melakukan renungan yang dalam ternyata al Ghazali menyadari bahwa kegiatan ilmiah (mengajar di madrasah) yang dilakukan selama ini tak lain hanyalah memburu gelar dan status sosial.
Hal itulah yang merangsang al Ghazali untuk menetap di Syam (Syiria) selama dua tahun. Al Ghazali mengasingkan diri (uzlah), menyepi (khulwah), tirakat (riyadhoh/mujahadah). Seharian penuh al Ghazali i’tikaf di masjid Damaskus dan mengurung diri di puncak menara masjid tersebut. Aktivitas tersebut dimaksudkan untuk membersihkan diri dan mensucikan hati sebagaimana jalur yang ditempuh oleh para ahli sufi. Al Ghazali melakukan safari haji dan ziarah makam Rasulullah. Untuk selanjutnya al Ghazali pindah ke daerah Hijaz. Selama kurang lebih sepuluh tahun al Ghazali menjalani kehidupan seperti itu. Sampai akhirnya dahaga intelektual benar-benar terpuaskan. Al Ghazali meyakini bahwa perjalanan ahli sufi adalah jalan yang terbaik dan paling benar, prilaku tasawuf adalah sebaik-baiknya akhlak. Jalan hidup yang ditempuh al Ghazali merupakan sebuah petualangan intelektual yang sangat menakjubkan !.


 Sumber: al Munqidz min al Dhalal (karya al Ghazali)
Oleh: AHMAD ZAKY MAULANA

Team Cyber Aswaja Guntur

Komentar

Popular Posts

Sejarah PonPes Al Hidayat Krasak Temuroso Guntur

Di saat pesantren salaf berbondong bondong memasukkan kurikulum umum ke dalam pendidikan di pesantrennya, Pondok Pesantren Hidayat yang terletak di Dukuh KrasakTemuroso Kecamatan Guntur Kabupaten Demak sama sekali  tidak goyah untuk tetap eksis dan fokus dalam mendidik santri santrinya dengan menggunakan metode pendidikan salaf.  Keberadaan PP. Al Hidayat sampai saat ini dengan kesalafannya tidak lepas dan merupakan buah perjuangan tidak kenal Ielah dan pengasuhnya KH. Mishbachul Munir Al Mubarak.  Sejarah dan Profil PP. Al Hidayat  Sejarah bukanlah suatu cerita lama yang usang  dan ditinggalkan karena tergerus oleh zaman. Akan tetapi, sejarah adalah prasasti yang sangat penting dalam suatu perjuangan dan menjadi cermin bagi generasi penerus yang bukan hanya untuk dikenang melainkan juga untuk diteruskan perjuangan-nya serta diteladani semangat juangnya. Begitu pula Pondok Pesantren Al Hidayat. Gus Dlowi (panggilan akrab KH. Achmad Baidlowi;

Materi PKD & Diklatsar Amaliyah dan Tradisi Keagamaan NU

AMALIYAH DAN  TRADISI KEAGAMAAN NU Oleh KH. Tamim Romly ( Ketua MWC NU Kec. Guntur ) Nahdlatul ulama sebagai organisasi sosial keagamaan yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap gerakan kebangsaan dan kemanusiaan hal ini karena NU menampilkan Islam ahlussunnah wal jamaah Aswaja ke dalam tiga pilar ukhuwah yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, ukhuwah insaniyah. Konsep jam'iyah Nahdlatul ulama adalah mengembangkan ukhuwah Islamiyah sampai pada dimensi ukhuwah wathoniyah dengan landasan iman ini ukhuwah wathoniyah solidaritas kebangsaan terbukti menjadi faham kebangsaan yang sangat kuat yang selama ini kita kenal. Nasionalisme religius yaitu nasionalisme yang disinari agama yang kuat, NU dalam tatanan kehidupan sehari-hari selalu mengedepankan konsep dimensi Ihsan yang diwujudkan dalam Aswaja yaitu bentuk dan pola keagamaan yang tawassuth (moderat), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleran) dan I’tidal (jalan tengah) sehingga umat Isl

Sinergi Menjaga Kamtibmas Hari Raya Idul Fitri 1442 H

  Sinergi Menjaga Kamtibmas Hari Raya Idul Fitri 1442 H Jajaran personil Banser, Polsek dan Koramil mengikuti Apel Gelar Pasukan Pengamanan Hari Raya Idul Fitri 1442 H di halaman Polsek Guntur, Rabu (12/5/2021). Apel yang dibuka pada jam 16.30 WIB di ipimpin langsung Kapolsek Gumtur AKP. Anang Hariyanto dilanjutkan Pembukaan Posko Lebaran. Buka bersama dengan suasana Silaturrahim menjadi penutup dalam apel sore ini. Kapolsek menghimbau untuk selalu sinergi menjaga kamtibnas di wilayah Guntur khususnya pada Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Dalam kegiatan ini 20 personil banser   dipimpin Komandan Rayon Banser Sahabat M. Irham, dan dibagi menjadi 2 pleton. Pleton 1 mengikuti Patroli keliling dan Pleton 2 siaga di perbatasan Guntur Tegowanu. Dalam bincang-bincang santai dengan Aipda Paul Maridas selaku Babin Kamtibmas Guntur mengatakan penting sekali mengantisipasi adanya tindak kriminal kenakalan remaja berupa tawuran walau Tradisi Takbir keliling sudah dilarang karena adanya Covid 19