Langsung ke konten utama

Free Download 30 Background Islami

Sahabat sahabat semua khususnya yang suka Desain, Desain grafis sangat erat dengan persepsi, pencitraan, dan juga komunikasi. Desain grafis memudahkan dalam bertukar informasi, membuat sebuah informasi menjadi lebih menarik dan lebih nyaman secara visual. Desain grafis juga penting bagi sebuah bisnis untuk mengkomunikasikan fitur, manfaat, dan keunggulan produk atau layanan secara visual kepada prospek dan target pelanggan. Alasan utama orang lebih suka grafis dari pada teks karena kecepatan penyerapan informasinya. Menurut riset, visual grafis diserap 60.000 kali lebih cepat dari pada teks. Grafis yang bagus dapat langsung mengkomunikasikan pesan, perasaan, emosi, dan nilai yang disampaikan. Berikut beberapa point kenapa desain grafis penting untuk sebuah bisnis 1. Kesan Pertama itu penting Desain grafis diperlukan untuk membuat kesan positif dan bertahan lama pada merek  brand  anda. Karena interaksi pertama anda dengan pelanggan dapat menentukan nada dari hubungan bisnis anda. 2. Ko

Alim Munafik Lebih Berbahaya dan Berat Siksanya dari pada Orang Kafir


Alim Munafik Lebih Berbahaya
dan Berat Siksanya 
dari pada Orang Kafir
oleh KH. Agus Baidlowi Misbah
Rutinan malam Jum'at Kliwon Satkoryon Banser Guntur

Di era keterbukaan informasi, orang munafik justru menampakan diri secara terang-terangan. Mereka menggunakan atribut-atribut keislaman, didapuk sebagai representasi ormas Islam, namun pemikiran jauh dari Islam, bahkan mendekati kekafiran. Mereka tidak hanya dari kalangan miskin ilmu, bahkan mereka intelektual dan cendekiawan Muslim, namun mereka mencampurkan yang haq dengan yang bathil, memelintir dalil-dalil, dan mengolah kata-katanya sehingga tampak benar.

Orang-orang munafik ini pun mengaku dirinya yang paling Islam, padahal tidak, tujuannya adalah menipu umat Islam. Ketika umat Islam sudah terbius dengan penampilan mereka, mereka mulai menampakan pemikiran-pemikiran aneh dan menyimpang kepada masyarakat. Jurus andalan mereka adalah kepandaian mereka dalam berbicara, berdebat dan berargumen.

Keberadaan orang munafik sangat membahayakan, potensinya akan membawa umat kepada penyimpangan dan hancurnya Islam dari dalam. Dalam kehidupan, mereka tampak seperti saudara namun dalam pemikirannya mereka memusuhi Islam dan mengkhianati Islam. Apapun yang mereka ucapkan tidak lain karena motivasi duniawi atau pesanan dari pemilik kekuasaan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan keberadaan orang-orang munafik ini, para pembual yang pandai mengolah kata dan pandai berbicara. Beliau bersabda :
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti menimpa umatku, adalah setiap munafik yang pandai bicara (bersilat lidah).” (HR. Ahmad no. 143)
Senada dengan itu, suatu ketika Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu naik mimbar kemudian berpidato :
 إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُنَافِقُ الْعَلِيمُ ، قِيلَ : وَكَيْفَ يَكُونُ الْمُنَافِقُ عَلِيمٌ ؟ قَالَ : عَالِمُ اللِّسَانِ، جَاهِلُ الْقَلْبِ وَالْعَمَلِ
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini adalah orang pintar yang munafik. Para sahabat bertanya: Bagaimana bisa seseorang itu menjadi munafik yang pintar? Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Yaitu orang yang pandai berbicara (bak seorang alim), tapi hati dan perilakunya jahil”. (Ihya Ulumuddin, hlm. 1/59)

Adapun maksud dari ‘Alimul Lisan (pandai bicara) adalah mereka mempergunakan kepandaian agamanya mempengaruhi manusia, menggunakan dalil-dalil tapi tidak mengamalkannya, banyak berkata-kata sesuai pesanan yang membayarnya dan memperindah perkataannya untuk menarik masa sebanyak-banyaknya. Al-Imam Muhammad Al-Munawi rahimahullah menjelaskannya untuk menerangkan hadist di atas:
(عليم اللسان) أي عالم للعلم منطلق اللسان به، لكنه جاهل القلب فاسد العقيدة، يغر الناس بشقشقة لسانه، فيقع بسبب تباعه خلق كثير في الزلل
“Yang dimaksud dengan “’alim lisannya” yaitu dia ‘alim terhadap ilmu dan lisannya lugas menyampaikan ilmu, akan tetapi jahil (bodoh) hatinya lagi rusak akidahnya, dia menipu manusia dengan kefasihan lidahnya, sehingga banyak orang tersesat karena mengikutinya.” (Faidhul Qadir, 1/221)

Dalam surat an nisa' ayat 145-146 Allah berfirman :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka . Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah serta dengan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah Maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.

- kitab tafsir ibnu katsir (2/442) :

ثم أخبر تعالى : ( إن المنافقين في الدرك الأسفل من النار ) أي : يوم القيامة ، جزاء على كفرهم الغليظ .

Firman Allah : " sesungguhnya orang-oran munafiq itu ditempatkan pada tingkatan paling bawah dari neraka "maksudnya kelak di hari kiamat, itu sebagai balasan atas KEKUFURAN mereka yang tebal.

- kitab tafsir al qurtuby dalam tafsir surat an nisa' ayat 145 :

فالمنافق في الدرك الأسفل وهي الهاوية ؛ لغلظ كفره وكثرة غوائله وتمكنه من أذى المؤمنين .

Maka orang munafik berada dalam tingkatan neraka paling bawah yaitu neraka hawiyah sebab tebalnya KEKUFURANnya, banyak kejahatannya dan pengaruhnya dari menyakiti muslimin.

- kitab tafsir al baghowy (2/303) :

( إلا الذين تابوا ) من النفاق وآمنوا ( وأصلحوا ) عملهم ( واعتصموا بالله ) وثقوا بالله ( وأخلصوا دينهم لله ) أراد الإخلاص بالقلب ، لأن النفاق كفر القلب ، فزواله يكون بإخلاص القلب ،

Firman Allah : (kecuali orang-orang yang bertaubat ) dari kemunafikannya dan beriman ( dan memperbaiki ) amalan mereka (dan berpegang teguh pada Allah ) dan bertaqwa kepada Allah ( serta tulus ikhlas menjalankan agama karena Allah ) maksudnya ikhlas dengan hati, karena kemunafikan adalah KUFUR qolby, maka hilangnya kemunafikan adalah dengan ikhlasnya hati .

- kitab tafsir al kabir :

المسألة الرابعة : لما كان المنافق أشد عذابا من الكافر لأنه مثله في الكفر ، وضم إليه نوع آخر من الكفر ، وهو الاستهزاء بالإسلام وبأهله ، وبسبب أنهم لما كانوا يظهرون الإسلام يمكنهم الاطلاع على أسرار المسلمين ثم يخبرون الكفار بذلك فكانت تتضاعف المحنة من هؤلاء المنافقين ، فلهذه الأسباب جعل الله عذابهم أزيد من عذاب الكفار .

Ketika kedaan orang munafiq lebih berat siksaannya daripada orang kafir karena orang munafiq serupa dengan orang KAFIR dalam KEKUFURANnya, dan juga digabungkan padanya jenis kekufuran yg lainnya yaitu penghinaan thd agama islam dan pemeluknya, dan sebab sesungguhnya mereka memperlihatkan keislaman memungkinkan mereka utk melihat rahasianya orang2 muslim kemudian mengkhabarkannya kepada orang2 kafir maka jadilah cobaan muslimin menjadi berlpat ganda dari orang2 munafiq,maka karena sebab-sebab inilah Allah menjadikan siksaan munafik lebih bertambah daripada siksaannya orang kafir.

Dalam kitab Kasyifatussajaa halaman 84:

[فائدة] قال محمد الشربيني في كتابه التفسير الملقب بالسراج المنيروالكفر لغة ستر النعمة وأصله الكفر بالفتح وهو الستر وفي الشرع إنكار ما علم بالضرورة مجيء رسول به
وينقسم إلى أربعة أقسام: كفر إنكار وكفر جحود وكفر عناد وكفر نفاق
فكفر الإنكار هو أن لا يعرف الله أصلاً ولا يعترف به
وكفر الجحود هو أن يعرف الله بقلبه ولا يقر بلسانه ككفر إبليس واليهود قال الله تعالى: فلما جاءهم ما عرفوا كفروا به
وكفر العناد هو أن يعرف الله بقلبه ويعترف بلسانه ولا يدين به ككفر أبي طالب حيث يقول:ولقد علمت بأن دين محمد >< من خير أديان البرية دينالولا الملامة أو حذار مسبة >< لوجدتني سمحاً بذاك مبينا
وأما كفر النفاق فهو أن يقر باللسان ولا يعتقد بالقلب اهـ

Asysyarif Ali bin Muhammad al Jurjani dalam kitab Atta'rifat halaman 298 menjelaskan :

المنافق هو الذي يضمر الكفر اعتقادا ، ويظهر الإيمان قولا

Imam al hafizh Ibn Rajab al hanbali dalam kitab Jami'ul Ulum wal Hikam juz 50 halaman 2-3:

والذي فسره به أهلُ العلم المعتبرون أنَّ النفاقَ في اللغة هو من جنس الخداع والمكر وإظهار الخير ، وإبطان خلافه
وهو في الشرع ينقسم إلى قسمين :أحدهما : النفاقُ الأكبرُ ، وهو أنْ يظهر الإنسانُ الإيمانَ بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر ، ويُبطن ما يُناقض ذلك كلَّه أو بعضه ، وهذا هو النِّفاق الذي كان على عهد النَّبيِّ - صلى الله عليه وسلم - ، ونزل القرآن بذمِّ أهله وتكفيرهم ، وأخبر أنَّ أهله في الدَّرْكِ الأسفل من النار
والثاني : النفاق الأصغر ، وهو نفاق العمل ، وهو أنْ يُظهر الإنسانُ علانيةًصالحةً ، ويُبطن ما يُخالف ذلك .

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim juz 1 halaman 150 :

وَفِي رِوَايَة : ( آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ )
هَذَا الْحَدِيث مِمَّا عَدَّهُ جَمَاعَة مِنْ الْعُلَمَاء مُشْكِلًا مِنْ حَيْثُ إِنَّ هَذِهِ الْخِصَال تُوجَد فِي الْمُسْلِم الْمُصَدِّق الَّذِي لَيْسَ فِيهِ شَكٌّ .
وَقَدْ أَجْمَع الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّ مَنْ كَانَ مُصَدِّقًا بِقَلْبِهِ وَلِسَانه وَفَعَلَ هَذِهِ الْخِصَال لَا يُحْكَمُ عَلَيْهِ بِكُفْرٍ ، وَلَا هُوَ مُنَافِق يُخَلَّد فِي النَّار ؛ فَإِنَّ إِخْوَة يُوسُف صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعُوا هَذِهِ الْخِصَال . وَكَذَا وُجِدَ لِبَعْضِ السَّلَف وَالْعُلَمَاء بَعْض هَذَا أَوْ كُلّه .
وَهَذَا الْحَدِيث لَيْسَ فِيهِ بِحَمْدِ اللَّه تَعَالَى إِشْكَال ، وَلَكِنْ اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي مَعْنَاهُ .
فَاَلَّذِي قَالَهُ الْمُحَقِّقُونَ وَالْأَكْثَرُونَ وَهُوَ الصَّحِيح الْمُخْتَار : أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْخِصَال خِصَال نِفَاق ، وَصَاحِبهَا شَبِيه بِالْمُنَافِقِ فِي هَذِهِ الْخِصَال ، وَمُتَخَلِّق بِأَخْلَاقِهِمْ . فَإِنَّ النِّفَاق هُوَ إِظْهَار مَا يُبْطِن خِلَافه ، وَهَذَا الْمَعْنَى مَوْجُود فِي صَاحِب هَذِهِ الْخِصَال ، وَيَكُون نِفَاقه فِي حَقّ مَنْ حَدَّثَهُ ، وَوَعَدَهُ ، وَائْتَمَنَهُ ، وَخَاصَمَهُ ، وَعَاهَدَهُ مِنْ النَّاس ،
لَا أَنَّهُ مُنَافِق فِي الْإِسْلَام فَيُظْهِرُهُ وَهُوَ يُبْطِنُ الْكُفْر . وَلَمْ يُرِدْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا أَنَّهُ مُنَافِق نِفَاق الْكُفَّار الْمُخَلَّدِينَ فِي الدَّرْك الْأَسْفَل مِنْ النَّار .
وَقَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا )مَعْنَاهُ شَدِيد الشَّبَه بِالْمُنَافِقِينَ بِسَبَبِ هَذِهِ الْخِصَال .
قَالَ بَعْض الْعُلَمَاء : وَهَذَا فِيمَنْ كَانَتْ هَذِهِ الْخِصَال غَالِبَة عَلَيْهِ . فَأَمَّا مَنْ يَنْدُر فَلَيْسَ دَاخِلًا فِيهِ . فَهَذَا هُوَ الْمُخْتَار فِي مَعْنَى الْحَدِيث .
وَقَدْ نَقَلَ الْإِمَام أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ مَعْنَاهُ عَنْ الْعُلَمَاء مُطْلَقًا فَقَالَ : إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا عِنْد أَهْل الْعِلْم نِفَاقُ الْعَمَل



Komentar

Popular Posts

Sejarah PonPes Al Hidayat Krasak Temuroso Guntur

Di saat pesantren salaf berbondong bondong memasukkan kurikulum umum ke dalam pendidikan di pesantrennya, Pondok Pesantren Hidayat yang terletak di Dukuh KrasakTemuroso Kecamatan Guntur Kabupaten Demak sama sekali  tidak goyah untuk tetap eksis dan fokus dalam mendidik santri santrinya dengan menggunakan metode pendidikan salaf.  Keberadaan PP. Al Hidayat sampai saat ini dengan kesalafannya tidak lepas dan merupakan buah perjuangan tidak kenal Ielah dan pengasuhnya KH. Mishbachul Munir Al Mubarak.  Sejarah dan Profil PP. Al Hidayat  Sejarah bukanlah suatu cerita lama yang usang  dan ditinggalkan karena tergerus oleh zaman. Akan tetapi, sejarah adalah prasasti yang sangat penting dalam suatu perjuangan dan menjadi cermin bagi generasi penerus yang bukan hanya untuk dikenang melainkan juga untuk diteruskan perjuangan-nya serta diteladani semangat juangnya. Begitu pula Pondok Pesantren Al Hidayat. Gus Dlowi (panggilan akrab KH. Achmad Baidlowi;

Materi PKD & Diklatsar Amaliyah dan Tradisi Keagamaan NU

AMALIYAH DAN  TRADISI KEAGAMAAN NU Oleh KH. Tamim Romly ( Ketua MWC NU Kec. Guntur ) Nahdlatul ulama sebagai organisasi sosial keagamaan yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap gerakan kebangsaan dan kemanusiaan hal ini karena NU menampilkan Islam ahlussunnah wal jamaah Aswaja ke dalam tiga pilar ukhuwah yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, ukhuwah insaniyah. Konsep jam'iyah Nahdlatul ulama adalah mengembangkan ukhuwah Islamiyah sampai pada dimensi ukhuwah wathoniyah dengan landasan iman ini ukhuwah wathoniyah solidaritas kebangsaan terbukti menjadi faham kebangsaan yang sangat kuat yang selama ini kita kenal. Nasionalisme religius yaitu nasionalisme yang disinari agama yang kuat, NU dalam tatanan kehidupan sehari-hari selalu mengedepankan konsep dimensi Ihsan yang diwujudkan dalam Aswaja yaitu bentuk dan pola keagamaan yang tawassuth (moderat), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleran) dan I’tidal (jalan tengah) sehingga umat Isl

Sinergi Menjaga Kamtibmas Hari Raya Idul Fitri 1442 H

  Sinergi Menjaga Kamtibmas Hari Raya Idul Fitri 1442 H Jajaran personil Banser, Polsek dan Koramil mengikuti Apel Gelar Pasukan Pengamanan Hari Raya Idul Fitri 1442 H di halaman Polsek Guntur, Rabu (12/5/2021). Apel yang dibuka pada jam 16.30 WIB di ipimpin langsung Kapolsek Gumtur AKP. Anang Hariyanto dilanjutkan Pembukaan Posko Lebaran. Buka bersama dengan suasana Silaturrahim menjadi penutup dalam apel sore ini. Kapolsek menghimbau untuk selalu sinergi menjaga kamtibnas di wilayah Guntur khususnya pada Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Dalam kegiatan ini 20 personil banser   dipimpin Komandan Rayon Banser Sahabat M. Irham, dan dibagi menjadi 2 pleton. Pleton 1 mengikuti Patroli keliling dan Pleton 2 siaga di perbatasan Guntur Tegowanu. Dalam bincang-bincang santai dengan Aipda Paul Maridas selaku Babin Kamtibmas Guntur mengatakan penting sekali mengantisipasi adanya tindak kriminal kenakalan remaja berupa tawuran walau Tradisi Takbir keliling sudah dilarang karena adanya Covid 19